Sabtu, 07 Februari 2015

TIPS: Mari Membuat Cerpen di Era Kontemporer

Leave a Comment
 
         SALAH satu almamater saya yaitu Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Sastra tentu saja    ada hubungannya dengan tulisan: cerpen, novel, bahasa dan tentu saja berhubungan juga dengan budaya termasuk filosofi sebuah kehidupan. Persoalannya adalah sebuah cerpen atau novel itu sekadar sebuah arus cerita tanpa membawa pesan apa-apa?
Beberapa cerpen dan bahkan novel dari penulis ternama yang pernah saya baca, ternyata hanya menyampaikan sebuah cerita saja. Tanpa ada pesan, tanpa ada penalaran tanpa menampilkan nuansa baru, tanpa ada pencerahan dan seringkali tidak mengajak pembaca untuk bernalar.
Namun, ada baiknya saya memberikan beberapa tips untuk membuat sebuah cerpen:

1.Inspirasi.
Inpirasi bisa dari mana saja. Bisa dari pengalaman pribadi atau orang lain. Bisa dari lamunan, khayalan bahkan dari mimpi sekalipun. Persoalannya adalah inspirasi itu menarik atau tidak untuk dijadikan sebuah cerpen?

2.Membuat kerangka cerita
Kalau inspirasi itu dirasa menarik, maka perlu pengembangan cerita. Cukup dibayangkan bagaimana awal cerita dan akhir cerita.

3.Karakterisasi
Lantas tentukan siapa para pelakunya dan masing-masing punya karakter. Mungkin tidak perlu dikatakan Si A pemarah, Si B pencemburu dan seterusnya. Karakter harus tercermin dari “dialog” dan “action” yang dilakukan.
Misalnya:”Karena emosi, maka Yenara yang cantik itu saya tampar pipi kiri dan kanannya berkali-kali”.
Pembaca tentu menarik kesimpulan, saya punya karakter emosional dan kasar.

4.Hindari kalimat rutin.
Memang agak sulit. Tetapi harus diusahakan dihindarkan.
Misalnya:”Hei, mau kemana kau,Anita” tanya Rusli
“Aku mau ke Carrefour” jawab Anita.
Kata “tanya” dan “jawab” sedapat mungkin dihindakan, kecuali terpaksa.

5.Kalimat verbal
Untuk cerpen memang terbatas kalau membuat kalimat verbal. Lebih cocok untuk novel. Meskipun demikian, beberapa kalimat verbal memang perlu.
Misalnya:” Ah, begitu saja kau marah…” Sussy menimpali sambil tertawa.
“ Ya, marah,dong! Saya tersinggung” Ronny menggebrak meja.
Kalimat “sambil tertawa” dan “menggebrak meja” merupakan kalimat verbal yang bisa “menghidupkan” suasana cerpen atau novel.

6. Gaya bahasa
Banyak gaya bahasa, mulai dari litotes, hiperbolisme, sinisme dan lain-lain. Ada juga gaya penulisan.
Misalnya: Di semua cerpen yang saya buat, saya selalu menggunakan kata “saya” untuk memberi kesan cerpen itu benar-benar saya alami.

7.Pesan
Sebuah cerpen ataupun novel idealnya membawakan sebuah atau beberapa buah pesan walaupun itu tidak ditulis secara eksplisit.
Misalnya: Cerpen saya berjudul “Rajin Shalat Kok Takut Hantu”, membawa pesan bahwa manusia (yang rajin shalat) salah besar kalau takut hantu. Jadi, ada pesan bernada kritik dan pencerahan.

8. Ada sesuatu yang baru
Sebuah cerpen atau novel setidaknya harus menampilkan sesuatu yang baru. Paling tidak, belum diketahui orang banyak. Antara lain yang berhubungan dengan dunia ilmu pengetahuan.
Misalnya: Cerpen saya berjudul Rina-Rani-Rini menceritakan sebuah kehidupan keluarga, di mana ketiga anaknya menderita autis. Autis itu apa sih? Nah, dengan membaca cerpen sekaligus menambah pengetahuan.

9. Era kontemporer
Kebanyakan cerpen dan novel bernuansa cinta. Boleh saja. Namun sebaiknya ada ramuan lain, misalnya ada aspek sosiologisnya, aspek politisnya, aspek filosofisnya sehingga tidak melulu soal cinta saja.

10.Mengejar kesempurnaan
Membuat cerpen dan novel yang menarik memang tidak mudah. Selera pembaca tentu berbeda. Sasaran ataupun segmentasi cerpen dan novel tentu harus jelas. Oleh karena itu seorang cerpenis maupun novelis dituntut untuk terus berusha menyempurnakan tulisannya. Caranya, membaca banyak buku ilmu pengetahuan supaya cerpen dan novelnya memiliki roh, memiliki aksen dan bisa memberikan pencerahan kepada semua pembacanya.

0 komentar:

Posting Komentar

.